//
baca
Dunia Pendidikan, Uncategorized

The Guru (Ibarat software antivirus, tdnya diharapkan jd penjinak virus yang menggerogoti, malah menjadi korban keganasan virus)

guru jiraiyaGuru pelita hatiku, Guru pahlawanku, Guru penghiburku, Guru tepatku mengadu, Guru yang membelaku disaat aku di olok-olok oleh teman-temanku, Guru yang membatuku disaat aku terjatuh, Guru yang selalu memberikanku kata-kata mutiaranya sehingga aku menjadi termotivasi dalam menuntut ilmuku. Guru i love u kata yang kuhadiahkan untukmu karena tak dapat kuganti dengan materi semua perjuangan mu.

Mengingat cuplikan sejarah ketika Jepang dihancurkan dapat kita melihat dan mengambil ilmu yang tersirat dari kisah tersebut. Setelah hancurnya kota Hirosima dan Nagasaki oleh bom atom, kaisar Jepang memerintahkan perdana menteri dan seluruh jajarannya untuk berkumpul.

Yang menarik dari rapat mendadak, ini adalah pertanyaan pertama yang kaisar ajukan. Kaisar tidak bertanya berapa prajurit yang tersisa, atau berapa uang yang masih kita punya, atau bahkan berapa penduduk yang meninggal. Yang kaisar tanyakan  adalah ”Berapa guru yang masih kita miliki”.

Kita juga bisa melihat beberapa puluh tahun yang lalu di India dimana bangunan sekolah hanya terdapat di kota-kota besar saja, sementara di desa para murid dan guru melakukan proses belajar dan mengajarnya dibawah pohon terkadang tidak rindang lagi.

Sekarang kita bisa melihatnya, Jepang menjadi satu-satunya negara maju dari asia dan India. Mereka mempunyai keunggulan sumber daya manusia yang luar biasa yang dapat disejajarkan dengan bangsa Eropa dan Amerika. Sarana dan prasarana memang penting bagi setiap orang yang ingin belajar.

Namun tanpa adanya guru semua itu adalah percuma, saya secara pribadi menyebut guru sebagai profesi termulia.  Kalau mau dilihat asal kata guru adalah berasal dari bahasa sansekerta. Gu berarti kegelapan, dan Ru berarti melenyapkan, jadi Guru adalah ia yang melenyapkan kegelapan, atau sang pembawa terang.

Guru adalah seorang yang bukan saja hanya belajar untuk menambah ilmunya juga mentransformasikan apa yang diketahuinya atau mentranspormasi ilmunya kepada orang lain. Transpormasi adalah kunci dari proses belajar mengajar. Perubahan dunia yang sangat cepat terutama dalam bidang teknologi dan informasi, memaksa untuk meninjau peran cara guru mengajar di kelas.

Dahulu guru dipandang sebagai sumber informasi utama, kini karena sedemikian mudahnya setiap orang untuk mendapatkan informasi. Maka guru seharusnya sudah berperan sebagai fasilitator atau katalisator dalam proses pembelajaran ini. Bukan sebagai promotor yang memaksakan kehendak ilmunya kepada siswa sehingga terkadang siswa tidak mampu mengembangkan daya pikirnya. Karena sudah tercangkok oleh dokrin yang diberikan gurunya.

Tahukah  anda Albert Einstein  ketika meninggal dunia otaknya diteliti oleh laboraturium Amerika, dan ternyata tidak seperti masyarakat nyatakan kalau otaknya full dengan rumus-rumus. Tetapi Einstein hanya mengunakan 10 persen dari otaknya untuk berfikir bukan untuk menghafal. Tetapi cara berfikir Enstian adalah cara berfikir terbalik yang terkadang orang-orang disekitarnya  menyatakan kalau dia stres dan idiot.

Memang ketika kecil Einstein mengalami sulit bicara dan mengenal huruf, dia menulis huruf-huruf dengan terbalik sehinga disebut anak yang terkena desleksia (keterlambatan bicara/membaca dan menulis). Apakah Einstein keterbelakangan mental, tidak. Orang tuanya selalu memotivasi anaknya. Yang luar biasa walaupun Einstein tidak diterima di sekolah karena disebut anak idiot tetapi orang tuanya dengan sabar menjaga dan mengajarinya. Akhirnya Einstein memiliki seorang guru yang luar biasa pilihan orang tuanya. Dan terlahirlah Einstein yang mengukir sejarah di dunia  Fisika. Pantaslah para peneliti  menyebutkan didalam otak Einstein tersimpan The Power Mindset (cara berfikir yang luar bisa).

Dapat kita ambil pelajaran dari Einstein dan dari seorang guru tadi kalau anak yang dilahirkan di dunia  semuanya memiliki kecerdasan khusus pada masing-masing pribadinya. Maka didiklah anak-anak kita dengan cara yang profesional (banyak membaca, dan menuntut ilmu dari berbagai penjuru).

Cara–cara yang lama sudah harus kita ditinggalkan.

Tidak salah lagi kita kalau ingin membuat bangsa ini maju,  kita mulai dari meningkatkan kualitas guru dengan memberi pendidikan dan pelatihan yang terbaik dalam cara dan bagaimana mengajar yang membuat setiap murid tertarik untuk belajar dan berkarya untuk menjadi yang terbaik.

Guru, akhirnya menjadi salah satu faktor menentukan dalam konteks meningkatkan mutu pendidikan dan menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas karena guru adalah garda terdepan yang berhadapan langsung dan berinteraksi dengan siswa dalam proses belajar mengajar. Mutu pendidikan yang baik dapat dicapai dengan guru yang profesional dengan segala kompetensi yang dimiliki.

Ada banyak hal yang harus diperiksa ketika kita hendak mendiagnosa penyakit kelangkaan guru profesional di negeri ini. Persoalannya begitu kompleks, yakni tidak hanya bergema dalam ranah pendidikan semata, tetapi juga pada bidang lain seperti bidang ekonomi, politik, sosial, budaya, agama, atau bidang lainnya, yang secara langsung atau tidak langsung memberi dampak positif-negatif terhadap bidang pendidikan. 

Bidang-bidang tersebut pula yang memberi umpan balik ( feed back ) terhadap bidang pendidikan. Misalnya dalam penyakit sosial seperi tindak pidana korupsi, peran pendidikan sangat besar dalam membentengi anak bangsa untuk tidak berbuat tindakan amoral seperti itu. 

Sayangnya, dalam konteks Indonesia, pendidikan yang seyogianya menjadi tembok penahan untuk meminimalisir munculnya masalah-masalah sosial seperti korupsi, malah menjadi bidang yang paling besar di”olah” oleh korupsi. Ibarat software antivirus, tadinya diharapkan menjadi penjinak bagi virus yang menggerogoti, malah menjadi salah satu korban keganasan virus yang dijinakkannya.

miris…

About wayanbawa

just an ordinary gen..

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: