//
baca
Dunia Pendidikan

Wawasan Wiyata Mandala – Sebuah Konsepsi Mengenai Lingkungan Pendidikan

Hampir setiap ketika penerimaan siswa baru di SMP atau SMA, materi mengenai Wawasan Wiyata Mandala selalu di berikan kepada para murid baru pada waktu Masa Orientasi Siswa (MOS). Namun, tetap saja banyak yang tetap tidak tahu. Entah karena memang benar-benar tidak tahu atau tidak mau tahu. Sebab biasanya, para murid baru selalu dibutakan oleh kegirangan mempunyai teman baru dan terlalu sibuk mengenal lingkungan baru.

Secara etimologi, Wawasan Wiyata Mandala berasal dari kata “wawasan” yang bermakna pandangan, tinjauan, sebuah konsepsi atau tanggapan inderawi. Secara lebih luas, wawasan bermakna tidak hanya usaha untuk memandang atau meninjau isi, namun disertai dengan melukiskan cara pandang dan konsepsi tersebut.

Lalu, kata “wiyata” yang berarti pengajaran atau pendidikan dan “mandala” yang berarti lingkaran, bulatan atau wilayah. Jadi, dapat disimpulkan bahwa wiyata mandala bermakna lingkungan pendidikan.

Berdasarkan pengertian etimologis masing-masing kata yang membentuk, Wawasan Wiyata Mandala berarti sebuah cara pandang dan konsepsi mengenai lingkungan pendidikan. Cara pandang ini tidak bersifat teoritis melainkan aplikatif sehingga konsepsi yang ada disertai tindakan-tindakan untuk  mewujudkannya.

Dalam Surat Direktur Jendral Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) nomor :13090/CI.84 tanggal 1 Oktober 1984, ditetapkan bahwa Wawasan Wiyata Mandala merupakan sarana ketahanan sekolah. Wawasan Wiyata Mandala merupakan konsepsi atau cara pandang; bahwa sekolah adalah lingkungan atau kawasan penyelenggaraan pendidikan.

Tujuan pendidikan seperti termaktub dalam pasal 3, UU Sistem Pendidikan Nasional (UU Sisdiknas). Sekolah mengemban misi pendidikan oleh karena itu sekolah tidak boleh digunakan untuk tujuan-tujuan diluar tujuan pendidikan. Sekolah harus benar-benar menjadi ciri khas masyarakat  belajar di dalamnya.

Wawasan Wiyata Mandala memiliki semboyan yang dikenal dengan sebutan 7K.
Berikut in semboyan dari Wawasan Wiyata Mandala :

 1. Keamanan/ kenyamanan
2. Kekeluargaan
3. Kedisiplinan
4. Kerindangan
5. Kebersihan
6. Keindahan
7. Ketertiban

   Sekolah Sebagai Kawasan Wiyata Mandala

  • Sekolah harus memiliki visi dan misi yang jelas dalam pengembangan dunia pendidikan. Oleh sebab itu, sekolah dilarang digunakan untuk kegiatan-kegiatan yang tidak berhubungan dengan pendidikan.
  • Sekolah harus memiliki sarana dan prasarana yang mampu mendukung kegiatan pendidikan para siswa dalam upaya menggali, mengembangkan, dan menanamkan nilai-nilai positif dalam kehidupan.
  • Sekolah harus menjadi ciri khas masyarakat belajar di dalamnya.
  • Sekolah harus dapat menjadi suri tauladan yang baik.
  • Sekolah harus mampu menciptakan suatu lingkungan yang harmonis di antara warga sekolah maupun dengan warga luar sekolah dalam upaya memperlancar kegiatan pendidikan.

Ada beberapa komponen yang berperan dalam Wawasan Wiyata Mandala.
Berikut ini komponen yang berperan penting dalam Wawasan Wiyata Mandala.

1. Peran Kepala Sekolah

  • Memiliki kewenangan dan tanggung jawab penuh terhadap penyelenggaraan pendidikan.
  • Memiliki wibawa dan harus dihormati, siapa pun yang memiliki kepentingan dengan sekolah harus melalui kepala sekolah.
  • Segala tindakan yang akan diambil oleh aparat sekolah harus dengan izin kepala sekolah.
  • Melaksanakan program-program yang dibuat bersama komite sekolah.
  • Menertibkan lingkungan sekolah baik yang berbentuk sarana maupun peraturan atau tata tertib
  • Mengadakan rapat koordinasi yang bersifat insidentil interen antara guru, wali murid, maupun siswa
  • Mengadakan kegiatan yang dapat menunjang kemampuan siswa dan kegiatan sekolah

2. Peran Guru

  • Menjunjung tinggi martabat dan citranya baik sikap dan tingkah lakunya.
  • Menjadi tauladan di masyarakat (pamong).
  • Guru harus mampu memimpin baik di lingkungan sekolah maupun di luar lingkungan sekolah.
  • Digugu dan ditiru, dipercaya oleh diri sendiri dan warga sekolah.

3. Peran Civitas Akademika

  • Tata Usaha harus mendukung kepentingan administrasi dalam rangka proses belajar mengajar di sekolah.
  • Perangkat sekolah yang lain seperti pegawai, satpam, tukang kebun, petugas piket, dan lain-lain, harus melaksanakan hak dan kewajibannya sesuai bidang tugas masing-masing.
  • Semua warga sekolah menjalin rasa persaudaraan demi kenyaman warga sekolah.

4. Peran Murid

  • Mentaati peraturan tata tertib yang berlaku di sekolah tanpa kecuali.
  • Hormat dan sopan kepada guru dan warga sekolah yang lain.
  • Hormat dan sopan kepada teman.
  • Belajar dengan tekun.
  • Menyelesaikan tugas yang diberikan oleh guru.
  • Menjaga nama baik keluarga dan sekolah di manapun berada.
  • Menjauhi narkoba.
  • Menjaga dan memelihara fasilitas belajar dan mengajar.
  • Menjaga keamanan sekolah.

5. Peran Masyarakat

  • Mendukung  program dan kebijakan sekolah dalam rangka pemajuan proses belajar mengajar.
  • Memberi saran dalam pemajuan proses belajar dan mengajar.
  • Ikut menjaga keamanan lingkungan sekolah.
  • Mengadakan kerjasama dengan pihak sekolah melalui Komite sekolah.

Wawasan Wiyata Mandala – Memandang Lingkungan Pendidikan (Sekolah) Dewasa Ini

Jika berangkat dari prinsip Wawasan Wiyata Mandala, maka sebenarnya akan tercipta suatu keseimbangan dan keharmonisan di lingkungan pendidikan.
Sekolah yang merupakan kawasan wiyata mandala, akan menjadi tempat yang begitu sejuk dan indah. Siswa akan betah berlama-lama di sekolah untuk belajar.

Hubungan antara siswa, guru, orang tua dan masyarakat akan memberikan suatu kehidupan sosial yang harmonis sehingga dapat memberikan kenyamanan kepada siswa untuk belajar.

Beberapa hari yang lalu, pengumuman mengenai kelulusan di tingkat SMA telah diumumkan. Banyak siswa yang lulus merayakannya dengan mencorat-coret seragamnya lalu berpawai di sepanjang jalan raya. Oleh
karena itu, tak jarang pulah ulah mereka menyebabkan kemacetan yang mengganggu pengguna jalan lain.

Ekspresi siswa-siswi yang berlebihan ini, menurut penulis menunjukkan prinsip keharmonisan dalam Wawasan Wiyata Mandala tidak berjalan dengan baik. Siswa yang mengekspresikan kelulusan dengan mencorat-coret seragamnya tersebut cenderung bukan menunjukkan ekspresi kepuasan, namun menunjukkan ekspresi kebebasan.

Dalam arti seolah-olah ketika di sekolah selama tiga tahun tersebut mereka seperti dalam suatu kungkungan atau penjara. Dan mencorat coret seragam tersebut merupakan ekspresi kebebasan dari aturan sekolah yang mengkungkunya.

Selain itu, semakin berkembangnya sekolah-sekolah berstandar Internasional, semakin melupakan pula prinsip Wawasan Wiyata Mandala. Sekolah Berstandar Internasional (SBI) semakin menkotak-kotakkan
masyarakat Indonesia.

Akibat dari terkotak-kotaknya lapisan masyarakat (pendidikan) Indonesia, membuat keharmonisan tersebut sulit diwujudkan. Kesenjaangan sosial muncul di mana-mana akibat SBI mengambil tempat ekslusif di luar
masyarakat kebanyakan.

SBI sebenarnya satu langkah awal bagi Indonesia untuk melangkah lebih jauh sebagai sebuah negara yang bisa dikenal oleh internasional. Namun sebaiknya, nilai dan budaya bangsa Indonesia tidak dilupakan. Identitas kita sebagai bangsa Indonesia harus tetap terjaga di dalam setiap diri orang Indonesia. Otak dan pikiran kita boleh barat, namun jiwa kita harus tetap Indonesia.

Untuk menjaga nilai-nilai ke ‘Indonesiaan’ ini, Wawasan Wiyata Mandala yang selain proses pendidikan juga mengutamakan kehidupan sosial yang harmonis perlu untuk digunakan peranannya. Di dalam prinsip-prinsip
Wawasan Wiyata Mandala, guru, murid, orang tua dan masyarakat harus saling melengkapi dan menghormati untuk menunjang kegiatan belajar yang efektif. Hal ini jelas terlihat menggambarkan nilai dan budaya ke Indonesiaan yang terkenal dengan semangat gotong-royong.

demikian sekelumit penjelasan mengenai Wawasan Wiyata Mandala dalam dunia pendidikan di Indonesia. Namun sekarang, semboyan dalam dunia pendidikan itu nampaknya sudah mulai dilupakan.

<sumber>

About wayanbawa

just an ordinary gen..

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: