//
baca
Dunia Pendidikan

PARADIGMA BARU PENDIDIKAN DAN PEMBELAJARAN BERDASARKAN KONSTRUKTIVISME BIOLOGI KOGNITIF

Author : Ika Desi Budiarti, I Putu Eka Wahyu Juliasta, I Wayan Bawa Parmita

PENDAHULUAN

 1.1  Latar Belakang

Sekarang bukan jamannya lagi menganggap siswa sebagai ‘kertas putih kosong’ yang tidak tahu apa-apa sama sekali. Siswa yang hanya direcoki dengan apa yang diketahui gurunya hanya akan membentuk individu yang pasif. Pembelajaran tidak relevan lagi dianggap hanya sekedar sebagai proses transfer pengetahuan. Pembelajaran pada esensinya merupakan sutau proses konstruksi pengetahuan. Cara pandang seperti inilah yang disebut dengan konstruktivisme. Siswa hendaknya diberi kesempatan untuk melakukan eksperimen dengan obyek fisik, yang ditunjang oleh interaksi dengan teman sebaya dan dibantu oleh pertanyaan rangsangan dari guru. Sedangkan, guru hendaknya banyak memberikan stimulus kepada siswa agar mau berinteraksi dengan lingkungan secara aktif, mencari dan menemukan berbagai hal dari lingkungan.

Konstruktivisme memandang belajar sebagai proses dimana pebelajar secara aktif mengkonstruksi atau membangun gagasan-gagasan atau konsep-konsep baru didasarkan atas pengetahuan yang dimiliki sebelumnya atau pada saat itu. Belajar melibatkan konstruksi pengetahuan seseorang dari pengalamannya sendiri oleh dirinya sendiri. Dalam perkembangannya paham konstruktivisme telah memberikan pengaruh besar terhadap pendidikan, terutama pendidikan di Indonesia. Kegiatan pembelajaran yang sering kita istilahkan dengan student centered berawal dari paham ini.

Munculnya berbagai jenis konstruktivisme dari berbagai tokoh mengakibatkan perubahan makna konstruktivisme dari yang sebenarnya. Kenyataan ini membuat beberapa penganut konstruktivisme prihatin dan kemudian mengemukakan pandangan-pandangan mereka terhadap esensi konstrutivisme. Terdapat empat varians konstruktivisme dari beberapa tokoh yang benar-benar memahami dan sejalan dengan paham akan sejatinya konstruktivisme tersebut. Keempat varians itu adalah konstruktivisme radikal, biologi kognitif, neurophysiology, dan cybernetic. Dalam makalah ini akan dibahas paham konstruktivisme biologi kognitif yang dikemukakan oleh Maturana dan Varela. Mereka melihat konstruktivisme dari sudut pandang penelitian modern di bidang biologi dan fisiologi, dan bukan berdasarkan tradisi filosofis.

1.2  Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang yang telah dikemukakan, maka dapat diajukan rumusan masalah sebagai berikut.

1)      Bagaimanakah paradigma paham konstruktivisme terhadap pembelajaran?

2)      Bagaimanakah paham  konstruktivisme berdasarkan biologi kognitif?

3)      Bagaimanakah perspektif konstruktivisme biologi kognitif dalam paradigma baru pendidikan dan pembelajaran?

1.3  Tujuan Penulisan

Adapun tujuan yang ingin dicapai melalui penulisan makalah ini adalah sebagai berikut.

1)      Untuk mengetahui paradigma paham konstruktivisme terhadap pembelajaran.

2)      Untuk mengetahui paham konstruktivisme berdasarkan biologi kognitif.

3)      Untuk mengetahui perspektif konstruktivisme biologi kognitif dalam paradigma baru pendidikan dan pembelajaran

1.4  Manfaat Penulisan

Adapun manfaat yang diharapkan melalui penulisan makalah ini adalah sebagai berikut.

1)      Bagi Penulis

Penulis dapat menambah wawasan tentang paham konstruktivisme berdasarkan biologi kognitif, terutama dalam hal pendidikan dan pembelajaran, dengan harapan dapat dijadikan acuan dalam melaksanakan pembelajaran yang lebih baik.

2)      Bagi Pembaca

Pembaca dapat menambah wawasan tentang paham konstruktivisme berdasarkan biologi kognitif, terutama dalam hal pendidikan dan pembelajaran, sehingga dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam melakukan proses pembelajaran di kelas maupun pada penyelenggaraan pendidikan pada umumnya.

PEMBAHASAN

 2.1. Paradigma Paham Konstruktivisme terhadap Pembelajaran

Gagasan pokok konstruktivisme sebenarnya dicetuskan oleh Giambatissta Vico. Vico adalah cikal bakal dari konstruktivisme. Vico dalam De Antiquissima Italorum Sapientia yang dipublikasikan pada tahun 1710 mengungkapkan bahwa “Tuhan adalah pencipta alam semesta dan manusia adalah tuan dari ciptaan”. Vico juga menjelaskan bahwa “mengetahui” berarti “mengetahui bagaimana membuat sesuatu”. Hal ini berarti bahwa seseorang baru mengetahui sesuatu jika dapat menjelaskan unsur-unsur yang membangun sesuatu itu. Menurut Vico, pengetahuan merupakan struktur konsep dari pengamat yang berlaku dan selalu menunjuk pada struktur konsep yang dibentuk.

Gagasan Vico kemudian disusul gagasan yang dinyatakan oleh Jean Piaget. Piaget menuliskan gagasan konstruktivisme dalam perkembangan kognitif dan juga dalam epistemologi genetik. Piaget menjelaskan mengenai teori adaptasi kognitif bahwa pengetahuan diperoleh berdasarkan adaptasi struktur kognitif terhadap lingkungan, seperti suatu organisme harus beradaptasi dengan habitatnya untuk dapat mempertahankan kehidupan.

Konstruktivisme memandang belajar sebagai proses dimana pebelajar secara aktif  mengonstruksi atau membangun gagasan-gagasan atau konsep-konsep baru didasarkan atas pengetahuan yang telah dimiliki di masa lalu atau yang ada pada saat itu. Dengan kata lain, belajar melibatkan konstruksi pengetahuan seseorang berdasarkan pengalamannya sendiri. Konstruktivisme memandang pengetahuan tidak dapat ditransfer begitu saja dari seseorang kepada orang lain, tetapi harus diinterpretasikan sendiri oleh masing-masing orang. Setiap orang harus mengonstruksi pengetahuan sendiri. Pengetahuan bukan sesuatu yang sudah jadi, tetapi suatu proses yang berkembang terus menerus.

Pembelajaran menurut konstruktivisme merupakan suatu kondisi dimana guru membantu siswa untuk membangun pengetahuan dengan kemampuan sendiri melalui konsep internalisasi sehingga pengetahuan itu dapat terkonstruksi kembali. Menurut pandangan konstruktivisme, belajar merupakan suatu proses pembentukan pengetahuan. Pembentukan ini harus dilakukan oleh si pebelajar. Pebelajar harus aktif melakukan kegiatan, aktif berpikir, menyusun konsep, dan memberi makna tentang hal-hal yang dipelajari.

Paradigma konstruktivisme memandang siswa sebagai pribadi yang sudah memiliki kemampuan awal sebelum mempelajari sesuatu. Kemampuan awal tersebut akan menjadi dasar dalam mengonstruksi pengetahuan baru. Dalam belajar, guru berperan sebagai fasilitator untuk membantu agar proses pengonstruksian pengetahuan oleh siswa berjalan lancar. Guru tidak mentransfer pengetahuan yang telah dimilikinya kepada siswa, melainkan hanya membantu siswa untuk membentuk pengetahuannya sendiri. Guru dituntut untuk lebih memahami jalan pikiran atau cara pandang siswa dalam belajar. Guru tidak dapat mengklaim bahwa satu-satunya cara yang tepat adalah cara yang sama dan sesuai dengan kemauannya.

2.2. Paham  Konstruktivisme Berdasarkan Biologi Kognitif

Konstruktivisme biologi kognitif diperkenalkan oleh seorang ahli biologi Chili, Humberto R. Maturana dalam bukunya yang berjudul Der Baum Des Erkenntniss (Pohon Pengetahuan). Maturana lahir pada tanggal 14 September 1928 di Santiago, Chile. Beliau adalah seorang ilmuan biologi dan sekaligus seorang filsuf. Teori biologi kognitif ini muncul bersamaan dengan teori konstruktivisme radikal sekitar tahun 1960an. Konstruktivisme biologi kognitif berawal dari penemuan beliau bersama rekannya F.J Varela mengenai teori autopoiesis, yaitu kontrol otomatis yang dimiliki manusia dalam sistem kehidupan. Mereka memandang konstruktivisme sebagai teori pengetahuan yang berdasar atas penelitian modern dalam biologi dan fisiologi sebagai ganti dari tradisi filosofis.

Pertanyaan “Apa itu kehidupan?” ternyata yang mengilhami konstruktivisme biologi kognitif. Beberapa ahli mendefinisikan kehidupan dengan mendaftar ciri-ciri  makhluk hidup seperti berkembang biak, tumbuh, bernafas, genetika dan lain sebagainya. Akan tetapi, mendefinisikan makhluk hidup dengan cara seperti ini ditolak oleh Maturana dan Varela, sebab tidak seorangpun yakin bahwa daftar ciri-ciri yang diberikan sudah lengkap atau belum. Selanjutnya, Maturana memandang kriteria kehidupan bukan dari struktur dan sifat-sifatnya, melainkan dari organisasinya. Maknanya, kehidupan merupakan sebuah kesatuan dalam proses produksi komponen-komponen makhluk hidup itu sendiri.

Selanjutnya, Maturana dan  Varela (1980) memberikan definisi tentang sistem autopoiesis, yaitu sebuah kesatuan proses jaringan dalam memproduksi, mentransformasi, dan meregenerasi dirinya sendiri. Sudiarta (2010) mengemukakan bahwa autopoesis dapat diartikan dengan kondisi yang selalu memperbaiki dan melindungi diri dengan melakukan perubahan struktural secara terus-menerus dan berkelanjutan. Dalam hal ini, individu memiliki kontrol otomatis terhadap kehidupannya tanpa intervensi dari luar

Sistem autopoiesis adalah sistem otonom tertutup (operasional closure), karena bekerja berdasarkan hukum diri sendiri. Sistem autopoiesis memiliki batas-batasnya sendiri, yang termasuk dalam operasinya (Maturana dan Varela, 1980). Dapat dikatakan bahwa dalam sistem autopoiesis, jaringan mengatur dirinya sendiri secara tertutup tanpa memerlukan kontrol eksternal dari lingkungan di luar dirinya. Dari pemahaman ini, jika kita hubungkan dengan sistem kerja organ manusia berarti seluruh organ biologi manusia mampu bekerja sendiri tanpa harus diperintah, apalagi dikendalikan oleh orang lain atau alat dari luar tubuh kecuali memang organ tubuh manusia itu sudah tidak dapat berfungsi dengan baik lagi.

Karena sistem organ manusia bersifat autopoiesis maka begitupula dengan sistem saraf. Maturana dan Varela (1980) memandang bahwa sistem saraf sebagai sistem yang otonom yang mandiri dimana untuk mengoperasikan sebuah jaringan dilakukan secara tertutup dengan ataupun tanpa adanya input. Sistem saraf merupakan jaringan tertutup dari sebuah saraf yang berinteraksi sehingga terjadi sebuah perubahan aktivitas dalam saraf-saraf yang selalu membimbing kepada sebuah perubahan dari aktivitas atau saraf-saraf lainnya. Akan tetapi, walaupun bersifat tertutup lingkungan dapat juga mempengaruhi kinerja dari sistem ini. Lingkungan dikategorikan sebagai ganguan yang akan merangsang munculnya respon kinerja sistem saraf. Gangguan ini tidak berarti meniadakan ketertutupan dari sistem saraf, karena hanyalah sekedar ‘gangguan’, proses respon dari gangguan yang terjadi di sistem saraf tetap tidak dapat dikontrol oleh pihak luar.

Berbicara mengenai ‘gangguan’, kita bisa saja menyebutkan bahasa ataupun informasi sebagai gangguan. Bahasa tidak dimasudkan untuk transfer informasi atau pemikiran. Bahasa fungsinya memberikan pilihan pada individu untuk mengkonstruksi informasi di dalam pikirannya sendiri. Hal ini sesuai dengan pendapat Maturana dan Varela (1980) yaitu bahwa tidak ada Tidak ada transfer pemikiran dari pembicara dengan pendengarnya, pendengar  menciptakan informasi dengan mengurangi ketidakpastiannya melalui interaksi di dalam domain kognitifnya.

Dari beberapa point yang mendasari paham Konstruktivisme Biologi Kognitif di atas, kita dapat menggaris bawahi beberapa hal sebagai berikut.

a)      Biologi kognitif memandang kriteria kehidupan bukan dari struktur dan sifat-sifatnya, melainkan dari organisasinya, kehidupan merupakan sebuah kesatuan dalam proses produksi komponen-komponen makhluk hidup itu sendiri.

b)      Autopoesis secara sederhana dapat diartikan selalu memperbaiki dan melindungi dirinya dengan melakukan perubahan struktural secara terus-menerus dan berkelanjutan.

c)      Autopoesis merupakan sebuah sistem otonom yang bekerja secara tertutup (operasional closure). Seluruh organ biologi manusia bersifat autopoesis yaitu mampu bekerja sendiri tanpa harus diperintah, apalagi dikendalikan oleh orang lain atau alat dari luar tubuh kecuali memang organ tubuh manusia itu sudah tidak dapat berfungsi dengan baik lagi.

d)     Sistem saraf manusia bersifat tertutup, sistem saraf merupakan jaringan tertutup dari sebuah saraf yang berinteraksi sehingga terjadi sebuah perubahan aktivitas dalam saraf-saraf yang selalu membimbing kepada sebuah perubahan dari aktivitas atau saraf-saraf lainnya

e)      Sesungguhnya kita tidak dapat melakukan transfer pemikiran untuk lawan bicara kita (khususnya siswa), pendengar  menciptakan informasi dengan mengurangi ketidakpastiannya melalui interaksi dalam domain kognitifnya.

Jika teori-teori yang mendasari biologi kognitif di atas dihubungkan dengan kehidupan manusia, didapatkan hasil bahwa seluruh organ biologi manusia mampu bekerja sendiri tanpa harus diperintah, apalagi dikendalikan oleh orang lain atau alat dari luar tubuh kecuali memang organ tubuh manusia itu sudah tidak dapat berfungsi dengan baik lagi. Oleh karena itu penganut paham biologi kognitif menyadari bahwa manusia adalah self regulation machine. Manusia merupakan mesin yang mampu meregulasinya dirinya sendiri tanpa harus ada campur tangan dari orang lain. Orang lain sama sekali tidak memiliki akses untuk menggerakkan segala unsur di dalam tubuhnya. Sebagai contoh bahwa manusia adalah mesin yang mampu meregulasi dirinya dan memiliki alasan yang kuat untuk melakukan sesuatu adalah ketika bagian tubuh seorang manusia terluka. Tanpa diperintah oleh siapapun, bahkan oleh manusia itu sendiri, sistem dalam tubuhnya secara alami mampu menyembuhkan luka tersebut, sepanjang lukanya tidak terlalu parah. Di dalam darah manusia terdapat cairan yang disebut plasma yang didalamnya mengandung butir darah putih dan trombosit. Keduanya berperan penting dalam proses penyembuhan luka. Trombosit mengandung sebuah enzim yang bertugas membekukan darah. Enzim mengeluarkan benang-benang fibrin. Benang fibrin itu menyebabkan darah membeku karena berbentuk seperti jaring. Jaring itu bisa menangkap dan menghalangi sel darah merah keluar dari pembuluh darah yang rusak. Dengan begitu, luka pun bisa sembuh dengan sendirinya. Sistem tersebut terjadi secara otomatis (autopoiesis). Dan proses tersebut terjadi apabila seluruh organ tubuh dalam keadaan yang baik. Sehingga dapat disimpulkan bahwa manusia merupakan mahluk hidup yang mampu meregulasi dirinya tanpa ada campur tangan dari orang lain.

2.3.  Paradigma Baru Pendidikan dan Pembelajaran Berdasarkan Konstruktivisme Biologi Kognitif

Paradigma lama yang menganggap bahwa peserta didik tidak tahu apa-apa sudah tidak relevan lagi di jaman sekarang ini. Pembelajaran yang dipahami oleh sebagian besar pendidik sebagai transfer pengetahuan dari satu orang (guru) ke orang lainnya (siswa) pun sudah saatnya dibenahi. Sudiarta (2010) mengemukakan bahwa saat ini proses pembelajaran yang berkembang masih mengacu pada proses pengajaran yang berdasarkan pada asumsi bahwa pengetahuan dapat ditransfer utuh dari pikiran guru ke pikiran pebelajar. Belajar hanya dilihat sebagai proses representasi fakta-fakta, proses memetik informasi, atau pengiriman input yang harus dihafal dan disimpan dalam pikiran dari peserta didik.  Sedangkan, mengajar dewasa ini disebutkan hanyalah bagaimana cara mentransfer input atau stimulus, dimana hasil atau output
dari belajar dapat diamati, diukur, diperkirakan dan dikendalikan oleh guru. Sebagian besar guru yakin bahwa mengajar berarti ‘mengorganisir dengan baik’ proses merespon stimulus yang mereka berikan. Mereka juga yakin bahwa jika mereka mengajar dengan baik, maka siswa juga akan belajar dengan baik.

Hal ini sungguh disayangkan, karena pada esensinya pembelajaran adalah suatu proses konstruksi. Bukannya proses konstruksi yang dilakukan dan dimanipulasi oleh pendidik akan tetapi proses konstruksi yang dilakukan oleh peserta didik itu sendiri di dalam dirinya. Kegiatan pembelajaran bagi siswa yang hanya dimaksudkan untuk menerima tanpa boleh mengajukan pertanyaan secara kritis serta tidak melibatkan kegiatan dan penilaian dari siswa, akan membentuk siswa yang pasif dan tidak kreatif. Padahal, siswalah yang harusnya aktif mengembangkan pengetahuan mereka, sebab kreativitas dan keaktifan akan membantu mereka untuk berdiri sendiri dalam kehidupan. Siswa akan menjadi lebih kritis menganalisis suatu hal karena mereka berpikir dan bukan meniru saja. Ini tentunya baik bagi kehidupan mereka.

Jika kita memahami perspektif konstruktivisme biologi kognitif yang dikemukakan oleh Maturana dan Varela, maka pembelajaran dengan kondisi siswa yang aktif mengkonstruksi pengetahuannya sendiri seperti di atas akan lebih mudah terlaksana. Konstruktivisme biologi kognitif berpandangan bahwa siswa sendiri yang harus mengkonstruksi pengetahuan, siswa adalah manusia yang mampu meregulasi dirinya sendiri tanpa bantuan dari pihak luar. Objek maupun lingkungan hanyalah sarana untuk terjadinya konstruksi tersebut.

Maturana dan Valera (1980) menyatakan bahwa seluruh organ manusia mampu bekerja sendiri tanpa harus diperintah, apalagi dikendalikan oleh orang lain atau alat dari luar tubuh kecuali memang organ tubuh manusia itu sudah tidak dapat berfungsi dengan baik lagi. Mereka menyebutkan bahwa manusia adalah self regulation machine. Maknanya, manusia merupakan mesin yang mampu meregulasi atau mengatur dirinya sendiri tanpa harus ada campur tangan dari orang lain. Orang lain sama sekali tidak memiliki akses untuk mengatur segala unsur di dalam tubuhnya. Jika dikaitkan dengan kegiatan pembelajaran, konstruktivisme biologi kognitif menyadari betul bahwa siswa sebagai manusia mampu mengkonstruksi sendiri pengetahuannya, orang lain termasuk guru tidak punya akses untuk membentuk pengetahuan mereka.

Oleh karena itu, paradigma pendidikan kita harus ditata kembali, pembelajaran yang dilakukan harus lebih bermakna berdasarkan pemahaman guru terhadap kondisi siswa yang pada dasarnya tidak dapat ‘dikendalikan’ oleh orang lain termasuk gurunya sendiri. Siswa diberikan kesempatan untuk membangun atau mengkonstruksi pengetahuannya sendiri berdasarkan pengalaman atau pengetahuan awal yang telah dimilikinya. Guru dalam hal ini hanya bertugas sebagai fasilitator yang hanya membantu mengarahkan siswa dalam mengkonstruksi pengetahuannya. Siswa diberi kesempatan menemukan, mengungkapkan, dan menerapkan pemikirannya terhadap suatu permasalahan tanpa dihambat. Siswa dibiasakan berpikir mandiri dan mempertanggungjawabkan pemikirannya. Selain itu, siswa hendaknya diperlakukan sebagai individu yang mampu mengatur  dirinya sendiri, tidak dapat diintervensi pihak luar. Sehingga siswa akan terlatih untuk menjadi pribadi yang mandiri, kritis, kreatif, dan rasional.

Sudiarta (2010) mengungkapkan bahwa dalam proses pembelajaran, seorang pendidik hendaknya menemukan, mempersiapkan, dan mengorganisasikan dengan tepat gangguan-gangguan dari lingkungan yang dapat membuat siswa berada dalam kegiatan yang berarti yang mengarah kepada pendefinisian masalah, pengidentifikasian sumber daya, penetapan prioritas, penanganan bagian-bagian dari masalah, penjelajahan pendekatan yang berbeda untuk masing-masing masalah, dan penemuan solusi yang tepat. Maksudnya, dalam pembelajaran, sebagai seorang pendidik kita hanya dapat menciptakan ‘gangguan’ bagi siswa kita. Diskusi kelompok, debat, menulis paper, membuat laporan penelitian, meneliti, mengungkapkan pertanyaan dan juga sanggahan terhadap yang diungkapkan guru merupakan beberapa kondisi yang dapat kita rancang yang akan menciptakan ‘gangguan’ bagi ruang kognisi siswa. Berikan kesempatan bagi siswa untuk mengekspresikan apa yang mereka ketahui dan yang tidak mereka ketahui. Dengan mengungkapkan gagasan dan pemikirannya, siswa akan dibantu untuk lebih berpikir, mengkonstruksi, dan merefleksikan pengetahuan mereka sendiri.

Jadi, dengan memandang siswa sebagai individu yang bisa mengatur dirinya sendiri dan tidak dapat diintervesi pihak luar dalam konstruksi pengetahuannya, kita dapat lebih ‘terbuka’ dalam melakukan pembelajaran. Selain siswa yang kreatif dalam membangun pemahaman dan pengetahuannya, kita sebagai pendidik pun harus kreatif dalam menciptakan gangguan-gangguan yang dapat memfasilitasi siswa dalam proses konstruksi pengetahuannya.

PENUTUP

 3.1  Simpulan

Berdasarkan pembahasan yang telah dipaparkan pada bab sebelumnya, dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut.

1)      Konstruktivisme memandang belajar sebagai proses dimana pebelajar secara aktif  mengonstruksi atau membangun gagasan-gagasan atau konsep-konsep baru didasarkan atas pengetahuan yang telah dimiliki di masa lalu atau yang ada pada saat itu. Dengan kata lain, belajar melibatkan konstruksi pengetahuan seseorang berdasarkan pengalamannya sendiri.

2)      Konstruktivisme biologi kognitif memandang siswa sebagai individu yang bersifat otonom yang mahluk hidup yang mampu meregulasi dirinya tanpa ada campur tangan dari orang lain.

3)      Pembelajaran menurut pandangan konstruktivis biologi kognitif adalah suatu proses pembentukan pengetahuan melalui pengalaman-pengalaman yang diperoleh siswa selama kegiatan pembelajaran berlangsung karena siswa dalam proses pembelajaran bersifat autonom yang tidak dapat diatur atau dikendalikan oleh guru. Dalam proses pembelajaran guru berperan sebagai fasilitator yang dapat membantu dan mengarahkan siswa dalam mengkonstruksi pengetahuannya sehingga kegiatan pembelajaran berlangsung secara efektif dan menjadi pembelajaran bermakna.

3.2  Saran

Siswa sebagai individu yang bersifat tertutup, autonom, dan self-regulated tidak dapat diatur atau dikendalikan oleh orang lain. Berdasarkan hal tersebut, dalam pelaksanaan proses pembelajaran guru diharapkan dapat memilih metode pembelajaran yang tepat berdasarkan pertimbangan konstruktivisme biologi kognitif.

DAFTAR PUSTAKA

Budiningsih, C. Asri. 2005. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta : PT Rineka Cipta.

Maturana, H.R dan F.J. Varela.1980. Autopoiesis and Cognition: The Realization ofthe Living. London: D. Reidel Publishing Company.

Sudiarta, I.G.Putu.2010. Biology of Cognition-Constructivism and Its Implication for The NewEpistemological Concept of Learning and Teaching. www.pdfsearch.com. Diakses tanggal 4 Mei 2011

Suparno, Paul. 1997. Filsafat Konstruktivisme Dalam Pendidikan.  Yogyakarta : Kanisius

http://benny-metika.blogspot.com/2011/03/konstruktivisme-radikal-dan-biologi. html.  Diakses tanggal 3 Mei 2011

http://edukasi.kompasiana.com/2010/10/06/teori-konstruktivisme/. Diakses tanggal 3 Mei 2011

http://fadjarp3g.files.wordpress.com/2007/09/med2-konstruksd-ok_median_.pdf. Diakses tanggal 3 Mei 2011 Diakses tanggal 4 Mei 2011

http://id.shvoong.com/social-sciences/education/2074843-teori-konstruktivisme-dalam-pembelajaran-matematika/. Diakses tanggal 4 Mei 2011

http://pages.uoregon.edu/moursund/Math/learning-theories.htm. Diakses tanggal 4 Mei 2011

http://pkab.wordpress.com/2008/04/23/teori-belajar-konstruktivisme/. Diakses tanggal 4 Mei 2011

http://rinimaryani.blogspot.com/2008/04/teori-konstruktivisme.html. Diakses tanggal 4 Mei 2011

http://Valmband.Multiply.Com/Journal/Item/12/Teori Perkembangan Kognisi Jean Piaget. Diakses tanggal 3 Mei 2011

About these ads

Tentang wayanbawa

just an ordinary gen..

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: